(Part 2) Liburan Bali : Bertemu Kawan Lama

IMG_20160818_145413

Pukul enam pagi terdengar alarm yang membangunkan saya dan Wiwi, hari kedua telah tiba. Kali ini saya pisah haluan perjalanan dengan teman-teman yang berasal dari Sampit dan berencana akan menghabiskan seharian bersama kawan lama saya, teman sejak SMA, namanya Berna. Dia tinggal di Bali kurang lebih sudah 10 tahun, dari mulai kuliah hingga sekarang bekerja sebagai dokter hewan di Denpasar. Pas sekali waktu itu adalah jadwal off nya dia, jadilah kami bisa jalan-jalan bareng setelah sekian lama tak bertemu.

Pukul 8 pagi, saya, Wiwi, Berna, dan Jagar (yang menyetir) berangkat dari penginapan dan langsung meluncur menuju Danau Beratan Bedugul. Daerah tersebut merupakan daerah dataran tinggi, atau bisa dibilang daerah puncaknya Bali. Dari kota Denpasar kurang lebih 55 km jaraknya, dan dapat ditempuh dalam waktu satu setengah jam. Memasuki daerah Bedugul, hawa sejuk mulai terasa, sangat adem, berbeda dari daerah Bali lainnya yang cenderung panas menyengat.

Kami sampai di danau Beratan pukul 10. Rasa dingin yang terasa saat turun dari mobil langsung hilang begitu melihat penampakan danaunya. Indah, sangat menyejukkan hati dan mata. Tidak berapa lama kemudian, kami langsung bernarsis ria, mengabadikan momen bahwa saya dan Wiwi akhirnya bisa sampai juga di tempat ini.

IMG_20160822_080337

Setelah puas di danau Beratan, kami langsung berjalan menuju destinasi selanjutnya, Tanah Lot. Kami terpaksa kembali melewati Denpasar karena rute pendek dari Bedugul menuju Tanah Lot sedang ditutup diakibatkan adanya upacara ngaben. Sehingga memakan waktu yang cukup banyak.

Kurang lebih pukul 3 sore kami tiba di Tanah Lot. Tempat ini sudah populer sejak dulu, namanya saja sudah sering terdengar di telinga orang-orang. Ciri khas dari tempat ini adalah adanya pura di atas tebing yang tinggi, sehingga harusnya bisa kelihatan bagus sekali dari jauh. Tetapi karena begitu banyaknya orang yang ada di sana, keindahan tempat ini menjadi berkurang. Kira-kira satu jam kami berkeliling di sekitar Tanah Lot mencari spot foto yang bagus hingga akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju Jimbaran.

Daerah Jimbaran dikenal dengan seafoodnya yang enak, selain itu, yang paling penting adalah kita dapat menikmatinya sambil memandang sunset di tepi pantai, wah! Tempat makan seafood di sana bervariasi harganya, mulai dari harga yang cukup mahal hingga yang ekonomis. Nah, berhubung tema jalan-jalan kali adalah traveling low budget, otomatis kami mencari tempat makan yang murah tapi rasanya tidak kalah dengan restoran-restoran bagus di sekitar Jimbaran.

Sampailah kami di Pasar Kedonganan Jimbaran atas usulan Jagar. Tempat ini lebih mirip dengan tempat makan di pinggir jalan yang menggunakan tenda saja, bedanya ini berlokasi di pinggir pantai.

Sebelumnya Jagar sudah menceritakan sedikit kalau tempat makan di Pasar Kedonganan itu kita tidak dilayani layaknya di restoran-restoran biasa. Kita sendirilah yang harus membeli ikan, udang, cumi-cumi, atau kerang yang masih segar lalu kita bisa menawarnya hingga harganya cocok. Sensasi tawar menawar di tempat itu sungguh seru, Wiwi mengambil bagian untuk menawar harga, dia emang paling bisa sih kalo nawar haha.

Setelah sempat bingung memilih antara ikan Bawal atau ikan Jangki, akhirnya kami memilih ikan Jangki 0,8 kg seharga Rp. 40.000,- dengan alasan pengin tahu rasanya bagaimana. Lalu kami mencari penjual udang kemudian melakukan tawar-menawar lagi hingga jadilah kami membeli udang 0,5 kg seharga Rp. 60.000,-

Belanja sudah, sekarang saatnya bakar ikan dan udang. Eits, yang bakar bukan kami tentunya, kami menggunakan jasa bakar seafood yang ada di situ juga. Katanya sih 1 kg seafood jasa bakarnya dihargai Rp. 20.000,- saja, tapi karena ikan dan udang yang kami beli beratnya 1 kilo lebih, kami dikenakan harga Rp. 30.000,- Oia, jika kamu ingin menyantap seafood  dengan nasi, penjualnya beda lagi, letaknya ada di sebelah jasa bakar seafood tadi.

Kurang lebih 20 menit, ikan dan udangnya selesai dibakar dan siap disajikan di atas meja bersama sambal terasi dan sambal matah khas Bali serta nasi hangat yang benar-benar membuat mata, mulut, dan perut berbinar-binar tidak sabaran ingin menyantap semuanya. Sambil memandang pantai dan matahari yang perlahan tenggelam, kami benar-benar menikmati sore itu, meski agak terganggu sedikit dengan pemandangan kapal-kapal nelayan yang sedang parkir di tepi pantai hihi. Ikan Jangki dan udang bakar dua-duanya terasa lezat, bumbu bakarnya meresap dan nikmat sekali dipadukan dengan sambal matah. Bahkan saat menulis ini, saya jadi kepengin lagi, masih terbayang enaknya haha

IMG_20160818_182554editt

IMG_20160818_182612

Abaikan penampilannya, tapi sungguh rasanya enak banget.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Setelah perut kenyang, hati senang, dan saatnya pulang. Seharian bersama kawan lama sungguh sangat menyenangkan, hingga akhirnya kami berpisah setelah Berna dan Jagar mengantarkan saya dan Wiwi kembali ke penginapan. Terima kasih Berna dan Jagar! Lain waktu kita bertemu lagi ya, entah di Bali ataupun di Jakarta 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s