Perihal Memahami dan Dipahami

shutterstock_244862644

Di dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, akan ada campur tangan atau intervensi orang lain yang kadang atau bahkan seringkali terjadi dan itu tidak bisa kita cegah. Ya selagi kita masih jadi manusia, seorang makhluk sosial, akan sangat susah rasanya untuk melarang orang lain untuk ikut campur urusan kita.

Nah, batasan intervensi ini tingkatannya ada bermacam-macam. Dari yang rasanya biasa saja, sampai ikut campur yang berlebihan. Pada tingkatan intervensi yang berlebihan, akan lebih terasa ketika sang komentatornya itu bukanlah orang yang dekat dengan kita. Mungkin di dalam pikiran kita terbaca seperti “Nih orang sotoy banget deh, kenal dekat juga ngga! ”. Yup, hal ini bisa membuat kita gemas sendiri bahkan mengomel, karena merasa terganggu dengan perlakuan tersebut.

Manusia tidak suka dihakimi, tapi mereka senang jika dipahami. Bukan berarti setiap dipahami itu tandanya memaklumi. Ya ada baiknya sebelum memberikan komentar, kritikan, saran, masukan, atau bahkan hujatan, kita bisa melihat dari sisi pendekatan masalah, mencoba memahami masalah, mencari tahu penyebab serta alasan, bahkan mencoba memandang dari sisi yang di sini menjadi objek ‘penderita’. Ya sebaiknya semacam ada rasa empati gitu, deh.

Ketika kita tahu secara jelas semua permasalahan yang terjadi, mungkin di saat ada kesempatan yang baik kita bisa berbicara dengan orang itu, kita bisa menyampaikan saran atau solusi yang ternyata berguna karena kita benar-benar paham apa yang dialami orang tersebut dan tentunya karena kita peduli. Atau ya tidak ada salahnya juga, ketika ada saatnya kita tidak bisa membantu sama sekali atas masalahnya yang ternyata lumayan runyam, kita bisa diam-diam mendoakannya agar di lain waktu dia bisa mendapatkan jalan keluar dan solusi yang oke.

Memahami dan dipahami adalah rangkaian keadaan yang menyenangkan jika bisa dilakukan. Karena adanya perasaan aman, nyaman, dan kita bisa menjadi diri kita sendiri. Ya singkat kata, jangan terlalu berpikiran sempit untuk menghakimi, jangan cukup hanya memaklumi jika sebenarnya kita juga bisa jadi teman yang baik untuk saling bertukar pikiran mencari solusi dan menasihati dengan tegas kalau memang perlu.

Ada saatnya teguran orang terdekat menyakitkan, bahkan lebih menyakitkan daripada mendengarkan caci maki orang yang tidak begitu mengenal kita. Tapi selagi kita paham bahwa orang terdekat itulah yang telah memahami kita, siapa lagi yang bisa menyadarkan kita di saat kita mungkin sedang khilaf dan tak tahu arah jalan vulang(?)

Amsal 27:6 “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s