Cinta : Hati dan Otak Harusnya Sinkron

Pacaran itu apa, sih? Hubungan lawan jenis yang saling mencintai? Saling merindu? Saling cemburu? Saling selingkuh? Saling menipu? Saling menjerumuskan? Atau saling melukai?

shutterstock_442513435

Sumber : Shutterstock

Sepertinya kalau mendengar kata pacaran, yang ada di benak kita adalah kegiatan yang menyenangkan serta membahagiakan, ya… yang membuat perasaan membuncah.

Senang dan bahagia karena memiliki orang yang dikasihi, ada yang memperhatikan, ada yang menyayangi, ada yang mencemburui, ada yang menghibur kalau sedih, ada yang antar jemput, pokoknya sebagian atau kebanyakan orang sepertinya menginginkan hal ini terjadi di dalam hidup mereka sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah nanti.

Kebanyakan tidak tahu, bahkan tidak menduga akan terjadi hal-hal jahat di dalam rutinitas hubungan lawan jenis ini. Awalnya cinta yang menjadi landasannya, kemudian banyak yang memodifikasinya dalam bentuk perselingkuhan, saling ketergantungan, menyakiti dengan cara masing-masing, bahkan ‘membodohi’ diri sendiri. Ada juga yang sedari awal sudah tidak mengerti apa itu cinta lantas dia pacaran hanya untuk menghindari orang lain mengatainya jomblo.

Pikiran manusia itu unik, perasaannya apalagi. Yang membuat semuanya menjadi kacau adalah ketika keadaan saling mengasihi ini hanya didominasi satu unsur, apakah unsur pikiran saja atau perasaan saja.

shutterstock_267560213

Sumber : shutterstock

Hal lain yang menjebak di dalam kondisi pacaran adalah situasi yang membuat ketergantungan akut, tanpa pasangan sepertinya tidak bisa hidup, tidak bisa melakukan apa-apa, tidak bergairah untuk melakukan aktivitas apapun, bahkan ada yang rela menghabisi nyawanya sendiri. Pasangan menjadi nomor satu di dalam segala aspek kehidupan, seperti dunianya itu ya pacarnya itu saja lalu kemudian menjadi buta, baik mata hati maupun otak. Ini lah yang sering disebut-sebut orang sebagai cinta buta.

Kalau bercerita tentang masa lalu, saya pernah melakukan kebodohan seperti ini juga. Waktu itu saya pernah menyayangi seseorang dengan tidak terkendali, berusaha mengontrol semuanya atas kekuatan saya sendiri. Saya merasa perasaan inilah yang sebenar-benarnya, ya otak istirahat saja dululah, tidak perlu ikut campur yang penting waktu itu saya bahagia.

Harusnya padu-padan pikiran dan perasaan yang pas dan seimbang membuat hubungan dengan lawan jenis lebih real dan tidak mengada-ada. Kemungkinan-kemungkinan terjelek yang akan terjadi pun tidak sampai mematahkan hati dalam keadaaan parah total.

Sampai suatu saat perasaan saya tersakiti, sangat. Itu dua kali lipat rasanya karena waktu itu saya tinggalkan otak saya entah kemana, jadi semua pondasi hubungan itu berpusat di perasaan saya. Ah, saya kena batunya, sakitnya bukan main. Akhirnya saya sadar, cinta itu harusnya ngga begitu-begitu amat, sih.

Bersyukur saya bisa belajar dari masa lalu, bisa memperbaiki dan menata hati kembali, serta mulai berusaha untuk dapat mengontrol hati dan pikiran kalau lagi jatuh cinta. Dan hasilnya, ketika patah hati, saya tidak sampai merasa mau mati saja. Enjoy aja, masih banyak ikan-ikan di laut (?)

Apakah kamu sudah pernah kena batunya? Yuk, melangkah lagi, luka dikit tidak apa yang penting masih mau belajar 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “Cinta : Hati dan Otak Harusnya Sinkron

  1. Bener…seharusnya emang kyk gtu…
    Tp apalah daya kta sebagai manusia, yg dengan mudahnya dibolak-balikkan perasaan serta mindset-nya oleh Yang Maha Kuasa…^.^
    Klo sempat, jgn sungkan2 main ke anastasyapratiwi.wordpress.com
    Itu rumah mayaku…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s